memutus siklus peredaran barang-barang palsu

Ini artikel dari The Jakarta Globe. Penulis Brett McGuire. Penerjemah Zata Ligouw. Photo dari di sini.
Bulan lalu, Nielson Vietnam mengeluarkan hasil survei selama satu tahun mengenai kebiasaan orang-orang Vietnam terhadap barang-barang palsu. Survei yang bekerjasama dengan Komisi Perdagangan Italia ini mengungkapkan bahwa setengah dari penjualan eceran di dua kota utama di Vietnam, Hanoi dan Ho Chi Min City, adalah barang-barang palsu.
Yang mengkhawatirkan, angka ini juga merefleksikan penemuan berdasarkan survei yang dilakukan oleh LPEM (Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat). Survei tersebut menunjukan bahwa keaslian jarang sekali merupakan sebuah faktor penting bagi konsumen. Hanya 14 persen konsumen yang mempertimbangkan keaslian saat membeli barang.
Mengapa kita membeli barang-barang palsu? Jawaban terhadap pertanyaan ini mungkin lebih kompleks dari yang mungkin Anda bayangkan.
Ketersediaan produk asli seringkali penjadi pemicunya, terbukti dengan berkembangnya pembajakan DVD di pasar Indonesia. Mayoritas film-film bajakan yang ditawarkan untuk dijual di pusat-pusat perbelanjaan kita tidak tersedia secara resmi di Indonesia. Hasilnya? Lebih dari 95% film yang dijual adalah DVD bajakan.
Harga seringkali merupakan faktor penting. DVD dari film-film yang tersedia secara resmi harganya bisa sampai sepuluh kali lipat dari harga bajakannya.
Tapi harga tidak selalu punya pengaruh seperti yang Anda bayangkan. Keinginan para konsumen membeli barang-barang palsu bervariasi, tergantung barangnya. Saat membeli barang-barang elektronik, konsumen lebih memilih membeli yang palsu. Hanya 16 persen konsumen yang lebih memilih membeli yang asli. Survei-survei tersebut mengindikasikan bahwa fungsi adalah prioritas utama saat membeli barang elektronik.
Harga justru berpengaruh lebih besar terhadap penjual barang palsu daripada pembelinya. Para penjual mengatakan bahwa keuntungan yang lebih besar adalah alasan utama mengapa mereka memilih menjual barang palsu.
Ada yang berpendapat bahwa besarnya populasi berpendapatan rendah berperan besar dalam hal ini. Namun survei yang dilakukan oleh LPEM bertentangan dengan teori tersebut. Pendapatan kadang memainkan peranan, tapi tidak sebesar yang Anda pikir. Konsumen kelas menengah hanya sedikit lebih cenderung membeli yang asli daripada yang berpendapatan kurang dari satu juta Rupiah per bulan (15 persen).
Pendapatan memainkan peranan yang lebih besar terhadap pakaian. Preferensi untuk memilih produk asli bertambah sesuai dengan pendapatan. Konsumen kelas menengah tiga kali lebih cenderung membeli pakaian bermerek daripada orang-orang dengan penghasilan di bawah 1 juta Rupiah per bulan. Tapi tetap saja, kurang dari setengah konsumen dengan penghasilan tinggi yang memilih membeli barang asli.
Konsumen akan enggan membeli produk palsu jika produk itu berpengaruh pada kesehatan. Untuk produk-produk farmasi, presentase orang-orang yang setia membeli produk asli sangat tinggi Hanya 18 persen konsumen yang secara sadar membeli obat palsu.
Tapi, sektor farmasi memiliki masalahnya sendiri. Obat-obatan palsu seringkali berkedok sebagai barang impor yang sah atau digambarkan sebagai obat generik oleh penjualnya. Jumlah yang mengkhawatirkan dari obat-obatan import dijual di pasar-pasar tradisional dan kios-kios kecil. Karena banyaknya obat yang dijual tanpa resep dokter dan bantuan tenaga professional (seperti apoteker di apotek), konsumen tidak bisa membedakan mana yang asli dan palsu.
Penemuan ini mengatakan kepada kita bahwa pasar barang-barang palsu di Indonesia, Vietnam dan daerah luas lainnya jauh lebih kompleks daripada pasar di negara maju, di mana pemicu utamanya biasanya adalah harga dan pembelian barang palsu seringkali dilarang. Penanganan masalah ini akan lebih dari hanya sekedar mendidik konsumen tentang kejelekan barang-barang palsu.
Jawabannya terletak pada penjual dan menghilangkan dorongan untuk menjual barang palsu. Ini sebagian bisa dicapai dengan mengurangi harga jual barang asli, seperti yang dilakukan Microsoft dengan menawarkan diskon besar-besaran untuk produk perangkat lunaknya. Tapi, mengurangi harga saja tidak cukup. Mengurangi harga secara dramatis memiliki sedikit, jika ada, pengaruh terhadap penjualan DVD bajakan.
Cara paling sederhana untuk mencegah orang-orang menjual barang palsu adalah dengan menegakan hukum. Disinilah di mana para pemilik merek berperan. Menjual barang palsu adalah tindakan kriminal. Tapi polisi tidak bisa melakukan sesuatu kecuali jika pemilik merek mengadukannya. Unit kejahatan khusus Polisi Jakarta menjelajahi kota mencari barang-barang palsu, tapi seringkali tidak mampu meyakinkan pemilik merek untuk melakukan penuntutan. Penjual tersebut kemudian dibebaskan dan terus menjual barang palsu, disemangati oleh pemilik merek yang tidak berani mengambil tindakan.
Ini berujung pada siklus di mana konsumen, penjual, dan pemilik merek semuanya memiliki peran. Tidak ada yang akan berubah kecuali kita memutus siklusnya. Titik awalnya haruslah dari para pemilik merek.
Comments [2]







